Minggu, 18 November 2012

Perumusan dan Pelaksanaan Strategi Bisnis


Pengertian Strategi
Definisi strategi adalah cara untuk mencapai tujuan jangka panjang. Strategi bisnis bisa berupa perluasan geografis, diversifikasi, akusisi, pengembangan produk, penetrasi pasar, rasionalisasi karyawan, divestasi, likuidasi dan joint venture (David, p.15, 2004).
Pengertian strategi adalah Rencana yang disatukan, luas dan berintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan tantangan lingkungan, yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama dari perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Glueck dan Jauch, p.9, 1989).
Pengertian strategi secara umum dan khusus sebagai berikut:
1. Pengertian Umum
Strategi adalah proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai.
2. Pengertian Khusus
Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus-menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan demikian, strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi dan bukan dimulai dari apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar yang baru dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti (core competencies). Perusahaan perlu mencari kompetensi inti di dalam bisnis yang dilakukan.
Perumusan Strategi
Perumusan strategi merupakan proses penyusunan langkah-langkah ke depan yang dimaksudkan untuk membangun visi dan misi organisasi, menetapkan tujuan strategis dan keuangan perusahaan, serta merancang strategi untuk mencapai tujuan tersebut dalam rangka menyediakan customer value terbaik.
Beberapa langkah yang perlu dilakukan perusahaan dalam merumuskan strategi, yaitu:
1. Mengidentifikasi lingkungan yang akan dimasuki oleh perusahaan di masa depan dan menentukan misi perusahaan untuk mencapai visi yang dicita-citakan dalam lingkungan tersebut.
2. Melakukan analisis lingkungan internal dan eksternal untuk mengukur kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang akan dihadapi oleh perusahaan dalam menjalankan misinya.
3. Merumuskan faktor-faktor ukuran keberhasilan (key success factors) dari strategi-strategi yang dirancang berdasarkan analisis sebelumnya.
4. Menentukan tujuan dan target terukur, mengevaluasi berbagai alternatif strategi dengan mempertimbangkan sumberdaya yang dimiliki dan kondisi eksternal yang dihadapi.
5. Memilih strategi yang paling sesuai untuk mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjang. (Hariadi, 2005).
Tingkat-tingkat Strategi
Dengan merujuk pada pandangan Dan Schendel dan Charles Hofer, Higgins (1985) menjelaskan adanya empat tingkatan strategi.
Keseluruhannya disebut Master Strategy, yaitu: enterprise strategy, corporate strategy, business strategy dan functional strategy.
a) Enterprise Strategy
Strategi ini berkaitan dengan respons masyarakat. Setiap organisasi mempunyai hubungan dengan masyarakat. Masyarakat adalah kelompok yang berada di luar organisasi yang tidak dapat dikontrol. Di dalam masyarakat yang tidak terkendali itu, ada pemerintah dan berbagai kelompok lain seperti kelompok penekan, kelompok politik dan kelompok sosial lainnya. Jadi dalam strategi enterprise terlihat relasi antara organisasi dan masyarakat luar, sejauh interaksi itu akan dilakukan sehingga dapat menguntungkan organisasi. Strategi itu juga menampakkan bahwa organisasi sungguh-sungguh bekerja dan berusaha untuk memberi pelayanan yang baik terhadap tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
b) Corporate Strategy
Strategi ini berkaitan dengan misi organisasi, sehingga sering disebut Grand Strategy yang meliputi bidang yang digeluti oleh suatu organisasi. Pertanyaan apa yang menjadi bisnis atau urusan kita dan bagaimana kita mengendalikan bisnis itu, tidak semata-
mata untuk dijawab oleh organisasi bisnis, tetapi juga oleh setiap organisasi pemerintahan dan organisasi nonprofit. Apakah misi universitas yang utama? Apakah misi yayasan ini, yayasan itu, apakah misi lembaga ini, lembaga itu? Apakah misi utama
direktorat jenderal ini, direktorat jenderal itu? Apakah misi badan ini, badan itu? Begitu seterusnya.
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu sangat penting dan kalau keliru dijawab bisa fatal. Misalnya, kalau jawaban terhadap misi universitas ialah terjun kedalam dunia bisnis agar menjadi kaya maka akibatnya bisa menjadi buruk, baik terhadap anak didiknya, terhadap pemerintah, maupun terhadap bangsa dan negaranya. Bagaimana misi itu dijalankan juga penting. Ini memerlukan keputusan-keputusan stratejik dan perencanaan
stratejik yang selayaknya juga disiapkan oleh setiap organisasi.
c) Business Strategy
Strategi pada tingkat ini menjabarkan bagaimana merebut pasaran di tengah masyarakat. Bagaimana menempatkan organisasi di hati para penguasa, para pengusaha, para donor dan sebagainya. Semua itu dimaksudkan untuk dapat memperoleh keuntungan-keuntungan
stratejik yang sekaligus mampu menunjang berkembangnya organisasi ke tingkat yang lebih baik.
d) Functional Strategy
Strategi ini merupakan strategi pendukung dan untuk menunjang suksesnya strategi lain. Ada tiga jenis strategi functional yaitu:
• Strategi functional ekonomi yaitu mencakup fungsi-fungsi yang memungkinkan organisasi hidup sebagai satu kesatuan ekonomi yang sehat, antara lain yang berkaitan dengan keuangan, pemasaran, sumber daya, penelitian dan pengembangan.
• Strategi functional manajemen, mencakup fungsi-fungsi manajemen yaitu planning, organizing, implementating, controlling, staffing, leading, motivating, communicating,
decision making, representing, dan integrating.
• Strategi isu stratejik, fungsi utamanya ialah mengontrol lingkungan, baik situasi lingkungan yang sudah diketahui maupun situasi yang belum diketahui atau yang selalu berubah (J. Salusu, p 101, 1996).
Tingkat-tingkat strategi itu merupakan kesatuan yang bulat dan menjadi isyarat bagi setiap pengambil keputusan tertinggi bahwa mengelola organisasi tidak boleh dilihat dari sudut kerapian administratif semata, tetapi juga hendaknya memperhitungkan soal
“kesehatan” organisasi dari sudut ekonomi (J. Salusu, p 104, 1996).
Jenis-jenis Strategi
Banyak organisasi menjalankan dua strategi atau lebih secara bersamaan, namun strategi kombinasi dapat sangat beresiko jika dijalankan terlalu jauh. Di perusahaan yang besar dan terdiversifikasi, strategi kombinasi biasanya digunakan ketika divisi-divisi yang
berlainan menjalankan strategi yang berbeda. Juga, organisasi yang berjuang untuk tetap hidup mungkin menggunakan gabungan dari sejumlah strategi defensif, seperti divestasi, likuidasi, dan rasionalisasi biaya secara bersamaan.
Jenis-jenis strategi adalah sebagai berikut:
1. Strategi Integrasi
Integrasi ke depan, integrasi ke belakang, integrasi horizontal kadang semuanya disebut sebagai integrasi vertikal. Strategi integrasi vertikal memungkinkan perusahaan dapat mengendalikan para distributor, pemasok, dan / atau pesaing.
2. Strategi Intensif
Penetrasi pasar, dan pengembangan produk kadang disebut sebagai strategi intensif
karena semuanya memerlukan usaha-usaha intensif jika posisi persaingan perusahaan dengan produk yang ada hendak ditingkatkan.
3. Strategi Diversifikasi
Terdapat tiga jenis strategi diversifikasi, yaitu diversifikasi konsentrik, horizontal, dan konglomerat. Menambah produk atau jasa baru, namun masih terkait biasanya disebut diversifikasi konsentrik. Menambah produk atau jasa baru yang tidak terkait untuk pelanggan yang sudah ada disebut diversifikasi horizontal. Menambah produk atau jasa baru yang tidak disebut diversifikasi konglomerat.
4. Strategi Defensif
Disamping strategi integrative, intensif, dan diversifikasi, organisasi juga dapat menjalankan strategi rasionalisasi biaya, divestasi, atau likuidasi.
Rasionalisasi Biaya, terjadi ketika suatu organisasi melakukan restrukturisasi melalui penghematan biaya dan aset untuk meningkatkan kembali penjualan dan laba yang sedang
menurun. Kadang disebut sebagai strategi berbalik (turnaround) atau reorganisasi, rasionalisasi biaya dirancang untuk memperkuat kompetensi pembeda dasar organisasi. Selama proses rasionalisasi biaya, perencana strategi bekerja dengan sumber daya terbatas dan menghadapi tekanan dari para pemegang saham, karyawan dan media.
Divestasi adalah menjual suatu divisi atau bagian dari organisasi. Divestasi sering digunakan untuk meningkatkan modal yang selanjutnya akan digunakan untuk akusisi atau investasi strategis lebih lanjut. Divestasi dapat menjadi bagian dari strategi rasionalisasi biaya menyeluruh untuk melepaskan organisasi dari bisnis yang tidak menguntungkan, yang memerlukan modal terlalu besar, atau tidak cocok dengan aktivitas lainnya dalam perusahaan. Likuidasi adalah menjual semua aset sebuah perusahaan secara bertahap sesuai nilai nyata aset tersebut. Likuidasi merupakan pengakuan kekalahan dan akibatnya bisa merupakan strategi yang secara emosional sulit dilakukan. Namun, barangkali lebih baik berhenti beroperasi daripada terus menderita kerugian dalam jumlah besar.
5. Strategi Umum Michael Porter
Menurut Porter, ada tiga landasan strategi yang dapat membantu organisasi memperoleh keunggulan kompetitif, yaitu keunggulan biaya, diferensiasi, dan fokus. Porter menamakan ketiganya strategi umum.
Keunggulan biaya menekankan pada pembuatan produk standar dengan biaya per unit sangat rendah untuk konsumen yang peka terhadap perubahan harga. Diferensiasi adalah strategi dengan tujuan membuat produk dan menyediakan jasa yang dianggap unik di seluruh industri dan ditujukan kepada konsumen yang relatif tidak terlalu peduli terhadap perubahan harga. Fokus berarti membuat produk dan menyediakan jasa yang memenuhi keperluan sejumlah kelompok kecil konsumen.
(David, p.231, 2004)
sumber : http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/08/konsep-strategi-definisi-perumusan.html
http://gilanggenesadwisaputra.blog.perbanas.ac.id/2011/11/23/artikel-bab-7-perumusan-dan-pelaksanaan-strategi/

Merancang organisasi yang Adaptif



PENGELOLAAN STRUKTUR VERTIKAL
 organisasi didefinisikan sebagai:
1.Sekumpulan tugas formal yang dimandatkan kepada individu  dan depatermen
2.Hubungan pelaporan formal , termasuk garis wewenang, tanggung jawab keputusan,
jumlah tingkat hierarki, dan rentang pengawasan manajer
3.Desain  sistem  untuk  menjamin  koordinasi  yang  efektif  dari  karyawan  di  berbagai
depatermen
Karakteristik  sruktur  vertikal  digambarkan  dengan  peta  organisasi.  Peta  organisasimerupakan penggambaran visual dari struktur organisasi
Fitur Penting Dalam Struktur Vertikal
A.Spesialisasi kerja (  work specialization/ division of labor) =Tingkatan dimana tugas
organisasi dibagi-bagi lagi ke dalam pekerjaan yang berbeda
B.Rantai  perintah  (chain  command)  =Garis  wewenang  tidak  terputus  yang
menghubungkan  semua  orang  dalam  organisasi  dan  menunjukkan  kepada  siapa
seseorang bertanggung jawab.
a)Wewenang (authority) =hak yang formal dan sah dari seorang manajer untuk
mengambil  keputusan,  mengeluarkan  perintah,  dan  mengalokasikan  sumber
daya  agar  tercapai  hasil  yang  diharapkan  organisasi.  Wewenang  ditentukan
oleh tiga kategori:
oWewenang diemban dalam kaitannnya dengan jabatan , bukan    pada
orang
oWewenang berlaku untuk  bawahan
(  Teori  keberlakuan  wewenang  =menyatakan  bahwa  seorang
manajer  memiliki  wewenang  hanya  jika  para  bawahannya  memilih
untuk menerima perintahnya)
oWewenang berjalan dari atas ke bawah pada hierarki vertikal.
Konsep  lain  yang  berkaitan  dengan  wewenang  adalah  Delegasi.  Delegasimerupakan  proses  yang  digunakan  manajer  untuk  memindahkan
wewenang dan tanggung jawab ke posisi hierarki dibawah mereka
b)Tanggung  jawab  (responsibility)  =kewajiban  seorang  karyawan  untuk
melakukan tugas atau aktivitas yang diberikan kepadanya. 
Akuntabilitasmerupakan  mekanisme  yang  digunakan  agar
wewenang dan tanggung jawabberjalan selaras.Akuntabilitas merupakan
kenyatakan  bahwa  setiap  orang  yang  memiliki  wewenang  dan  tanggung
jawab  harus  melakukan  pelaporan  dan  penjelasan  mengenai  tugas  yang
diberikan kepada atasan mereka di rantai komando
PENGANTAR MANAJEMEN
c)Wewenang  lini  =bentuk  wewenang dimana  tiap  orang  di  posisi  manajemen
memiiki  wewenang  formal  untuk  mengarahkan  dan  mengontrol  bawahan
secara langsung
d)Wewenang  staf  =bentuk  wewenang  yang  diberikan  pada  spesialis  staf
dibidang keahlian mereka
C.Ruang  lingkup  Manajemen  (  rentang  pengawasan/  span  of  contol)  =jumlah
karyawan  yang  bertanggungjawab  kepada  supervisor.  Faktor-faktor  berikut  yang
memperbesar rentang pengawasan:
a)Pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan stabil dan rutin
b)Bawahan melakukan tugas yang hampir sama
c)Bawahan terkonsentrasi di satu lokasi
d)Bawahan  sangat  terlatih  dan  tidak  membutuhkan  banyak  arahan  dalam
melakukan tugas
e)Peraturan dan prosedur dalam mendefinisikan tugas tersedia
f)Sistem pendukung dan SDM tersedia bagi manajer
g)Sedikit  waktu  yang  dibutuhkan  dalam  kegiatan  tanpa  pengawasan  seperti
koordinasi dengan depatermen lain atau perencanaan
h)Selera pribadi dan gaya maajer menyukai rentang yang lebih besar.
Rentang manajemen digunakan untuk menentukan apakah struktur dalam organisasi
berbentuk Tinggitall) atau Datar(flat). Stuktur tinggimemiliki rentang yang sempit
secara  keseluruhan  dan  lebih  banyak  tingkat  hierarki.  Struktur  datarmemiliki
rentang yang luas dan lebih sedikit tingkat hierarki.
D.Spesialisasi dan Desentralisasi
·Sentralisasi=lokasi  wewenang  keputusan  terletak  di  dekat  tingkat  atas
organisasi
·Desentralisasi  =lokasi  wewenang  keputusan  terletak  di  dekat  tingkat  yang
lebih bawah pada organisasi.
Faktor-faktor yang umumnya mempengaruhi sentralisasi dan desentralisasi:
a)Tantangan  dan  ketidakpastian  yang  lebih  besar  di  lingkungan  biasanya
dihubungkan dengan desentralisasi
b)Jumlah  sentralisasi  dan  desentralisasi  harus  sesuai  dengan  strategi
perusahaan
c)Di saat krisis atau risiko kegagalan perusahaan, wewenang dapat disentraisasi
pada tingkat atas.
1. E.Formalisasi  =Dokumentasi  tertulis  yang  digunakan  untuk  mengarahkan  dan
mengontrol karyawan
sumber :dc385.4shared.com/doc/HIEmiap4/preview.html
http://gilanggenesadwisaputra.blog.perbanas.ac.id/2011/12/05/artikel-bab-9-merancang-organisasi-yang-adaptif/